batang bambu utuh ukuran genggaman tangan orang dewasa sepanjang kurang lebih 2,5m. Begitulah yang dilakukan lelaki tua ini setiap harinya . Namanya Heri, penulis memanggilnya Babeh Heri. Lelaki yang sudah berumur 86 tahun sudah puluhan tahun menjadi pengrajin bambu di wilayah Manggarai Jakarta persis di tepi sungai Ciliwung. Daerah ini memang dulunya terkenal sebagai sentra penjualan bambu, pohon pinang. Babe Heri pun dulu-dulunya juga adalah pedagang bambu. Namun sejalan dengan putaran jaman, dimana pohon bambu sudah agak sulit di dapat (terutama di Jakarta) lalu juga lahan yang disebut pangkalan kian menyempit, maka mau tak mau Babe Heri pun ikut dalam putaran tersebut. Yang tadinya ia menjual bambu, sekarang ia hanya bisa bertahan sesuai dengan kebisaannya, yaitu mengolah pohon bambu tersebut menjadi barang kerajinan. Seperti brongsong, tempat lampu, tempat obor, bangku, meja.
Tempat Obor dari bambu hasil karya Babeh Heri |
Tapi dua kerajinan terakhir dibuat hanya berdasarkan pesanan saja. Jadi praktis, barang dagangan yang ia pajang dipinggir jalan tersebut hanya brongsong dan tempat obor/lampu. Babe Heri pun berkisah tentang masa lalunya. Kisah tentang banyak hal. Mulai dari masa-masa emas jualan batang bambu, betapa lebar dan bersihnya Kali Ciliwung yang dulu dijadikan sebagai lalu lintas pengiriman batang bambu dari wilayah Bogor ke Jakarta, sampai kisah tentang dirinya yang pernah menjadi Centeng (keamanan) di rumah seorang warga keturunan. "Dulu mah, kita pesan bambu dari Bogor dikirimnya di anyutin lewat kali" tuturnya dalam dialek Betawi. Dulu kan, Kali Ciliwung lebar, kite jadi gak perlu sewa mobil atau gerobak kalau pesan bambu, tambahnya. Pokoknya sekitar tahun 70an deh tuh kali mulai sempit karena pinggiran kali yang dulu kebon sama lapangan dibangun rumah penduduk. Penulis lalu membayangkan betapa indahnya Kali Ciliwung jaman dulu, bersih dan berair bening yang setiap saat bisa menjadi tempat berenang anak-anak setempat, belum lagi kegiatan lain para ibu-ibu yang mencuci di tepiannya.
Membuat brongsong |
Melepas Penat |
Lalu ia berkisah ketika dirinya pernah menjadi seorang centeng. Sepulang ia berjualan batang bambu, maka tugas selanjutnya adalah ia menjaga sebuah rumah di wilayah Manggarai juga. "Pas jaga, kite cuma modal sarung, golok sama obor doang waktu itu" Jelasnya. Menurutnya, wilayah itu dulunya dipenuhi oleh rumah-rumah bergaya Belanda, yang ditinggali oleh orang Belanda juga. Masih sepi, masih kayak hutan daerah sini. Jika pembaca pernah melewati jalan Manggarai terutama Jalan Manggarai Utara, suasana akan terasa seperti cerita Babe Heri. Sampai sekarang bangunan rumah peninggalan Belanda masih banyak berdiri dan dipenuhi pohon-pohon besar yang rindang. Belum lagi jembatan kereta api yang dibangun pada tahun 1917 yang sampai saat ini masih berfungi, menambah cerita tersendiri di jamannya.
Pinggir Jalan tempatnya bekerja dan memajang barang dagangan |
Mau sampai kapan dagang Beh Heri ? Akhirnya pertanyaan itu lepas juga dari mulut penulis. Bukan karena apa, terlihat sekali lelaki ini begitu menikmati pekerjaannya walau sudah puluhan tahun. Apalagi di usianya yang sudah menua. Tapi dia tetap bersemangat, tak mengenal lelah. Rasanya pertanyaan itu mungkin akan terdengar aneh buat dirinya. Tapi ia menjawab " Doain Babeh aje, biar tetap sehat, di kasih panjang umur, walau tangan udah sering kesemutan nih (asam urat), Babe tetap mau kerja sebisa Babe, tau deh sampai kapan" jelasnya sembari tersenyum. Iya Beh, semoga Babeh Heri tetap sehat, batin penulis. Ada perasaan haru melihat semangat di seusia itu. Haru karena di usia senja, dirinya masih sanggup untuk bekerja, walau dengan hasil yang tak menentu. Terharu, karena lelaki ini tak terlalu bergantung dengan keluarganya, anak-anaknya bahkan cucu-cucunya. Walau dia sekarang lebih sering tinggal bersama cucunya di wilayah yang tak jauh dari tempatnya berjualan (sebelumnya dia pulang pergi Manggarai-Bojong menggunakan kereta komuter, karena ia tinggal di daerah Bojong). Dan lebih terharu juga, apakah penulis akan sanggup seperti Babe Heri, jika di beri umur panjang nanti ? Tak ada yang tahu pasti. Tapi yang pasti kehidupan Babe Heri patut menjadi bahan renungan dan contoh nyata. Betapa kerasnya sebuah hidup dan kehidupan. Teriring doa untuk Babe Heri, semoga tetap semangat dan selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT. Amin
Babeh Heri diantara brongsang |
Usia 86 tahun, tapi masih sanggup untuk bekerja |
Pulang |
Sampai hari ini, penulis masih menyempatkan mampir ketempat kerjanya Babe Heri. Sekedar cerita, sekedar ngopi bareng dan menemaninya walau cuma sebentar.
Teks dan Tulisan :
Farid S
Sangat menarik,pak Farid. Mohon info alamat Babe Heri di Manggarai?
ReplyDeleteTerima kasih @aspi pira sudah mampir di blog ini. Hubungi email saya untuk alamat Babe Heri. Sukses buat anda.
DeleteTerima kasih atas info alamat tersebut sebelumnya.
ReplyDeleteSelamat sore, artikel nya menarik. Dan memang saya lagi butuh obor. Kalo boleh tau alamat babe heri di manggarai sebelah mana ya pak?? Saya coba cari alamat email bapak di blog kok gak ketemu. Terima kasih byk sblmnya....
ReplyDeletecekemailnya ya, saya sudah kirim alamat Babe Heri. Terima kasih
Delete