UA-72643545-1

Photo

Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Sunday, 25 October 2015

Kisah Pendorong Lori di Jakarta

pendorong lori, lori, Kampung Bandan, cerita Jakarta, foto human interest, foto street, rel, rel kereta api, cerita dari pinggir rel
Siang begitu terik. Suhu udara begitu panas saat itu. Disalah satu sudut kota Jakarta. Dibalik gedung dan beberapa pusat perbelanjaan. Ada satu wilayah yang menyimpan keunikan tersendiri dalam hal transportasi. Kampung Bandan tepatnya. Di wilayah yang padat penduduk ini, terdapat bentangan rel milik PT Kereta Api Indonesia yang sudah tidak terpakai. Rel yang menghubungkan antara Stasiun Tanjung Priok dan Stasiun Kota. Tidak ada yang tahu pasti, sejak kapan rel ini sudah tidak berfungsi. Ada yang mengatakan dari tahun 1995, ada pula yang mengatakan dari tahun 1998.

Wednesday, 23 September 2015

Kisah Seorang Pengrajin Bambu Dalam Sebuah Foto (Human Interest)

bambu, foto human interest, fotografi, kisah, foto hitam putih
Lalu lalang kendaraan seperti tidak diperdulikan. Dirinya tetap asyik mengerjakan pekerjaannya. Memilah, memilih dan membelah beberapa batang bambu lalu dijadikan berbagai bentuk. Seperti siang itu, terlihat dia sedang membuat brongsong (alat pemetik buah). Lewat tangannya yang sudah keriput namun masih kuat, ia membelah beberapa batang bambu, lalu dipotong menjadi beberapa bagian tipis. Beberapa potongan tipis dihaluskan lalu dianyam dengan potongan bambu lain membentuk kerucut. Selesai, lalu bagian ujung terkecil ia ikat dengan tali sabut kemudian dikaitkan dengan

Saturday, 22 August 2015

Senandung Foto Kampung Pulo

foto kampung pulo, foto human interest, penggusuran pemukiman, street fotografi
Laju roda pembangunan terus berputar. Suka tidak suka, mau tidak mau, itu semua harus kita ikuti. Pembangunan itu dilakukan demi kepentingan bersama, bukan kepentingan segelintir orang. Bukan kepentingan orang yang berduit. Tapi memang pembangunan itu dilakukan untuk kita menjadi lebih baik. Untuk sebuah kenyamanan, ketertiban, bahkan taraf hidup. Walau pembangunan kadang menyisakan efek tersendiri. Pembangunan kadang meninggalkan cerita sedih. Cerita yang "terpaksa" harus terputus. Dan sepenggal cerita sedih itu terjadi di wilayah Kampung Pulo Jakarta pada 20 Agustus 2015. Wilayah yang harus terkena salah satu pembangunan dari sekian banyak pembangunan yang sedang bahkan akan berlangsung di negeri ini. Menjadi orang yang terusir bahkan diusir adalah hal yang tidak mengenakan. Seolah ada kekuatan besar yang tak terbendung antara si kuat dengan si lemah. Tapi dalam hal pembangunan mungkin tak ada si kuat dan si lemah. Yang ada hanya sebuah kepentingan yang memang untuk menuju lebih baik. Jalan menuju baik, kadang harus ada pengorbanan. Pengorbanan yang sifatnya bukan sekedar materi, kedudukan atau bahkan jabatan. Tapi lebih dari itu,

Sunday, 9 August 2015

Sehari Bersama Para Fotografer Lawas

fotografer lawas, kisah para fotografer jamn dulu, tokoh footgrafer

Sejenak lupakan tentang komposisi foto, sejenak lupakan tentang pekerjaan memotret. Sejenak, lupakan apa-apa yang terjadi dalam dunia fotografi di Indonesia. Sejenak, lupakan hinggar bingar beragam warna dalam sebuah foto.

Kami hanya ingin berbagi hari itu. Berbagi nostalgia kami saat dulu bersama teman sejawat, teman seperjuangan, berbagi cerita apa-apa yang dulu pernah kami lakukan yang mengundang decak kagum, mengundang kekonyolan,bahkan  mengundang tawa.

Friday, 15 May 2015

Senandung Foto Kisah Tukang Ojek Sepeda


ojek sepeda, foto human interest, Kisah wilayah Kota Tua
Menuntun Sepeda
Panggil dia Pak Didi. Seorang lelaki yang di hari tuanya lebih memilih menjadi tukang ojek sepeda. Pria bernama asli Tarmidi ini sudah berusia 68 tahun. "Badan saya sepertinya sudah tidak kuat untuk menjadi tukang pengantar barang di toko tempat saya terakhir bekerja" begitu lelaki yang hidup menduda ini mengawali kisahnya. Menurutnya, sebelum ia beralih menjadi tukang ojek sepeda, ia menjadi pegawai pada sebuah toko di kawasan Kota. Tapi karena usia yang semakin bertambah dan dia merasa sudah tidak kuat (secara fisik)

Tuesday, 5 May 2015

Senandung Kisah Fotografer Wisata di Monas Jakarta

fotografer wisata, kisah fotografer, foto langsung jadi
Mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Indonesia tentu masing-masing orang mempunyai tujuan yang hampir sama. Melihat, menyaksikan sendiri keindahan, ikon atau lambang suatu daerah, benda-benda peninggalan yang mungkin menjadi ciri tersendiri, dan sebagainya. Dan kesemua itu mungkin tidak akan lengkap jika tidak adanya dokumentasi. Baik berupa video ataupun foto. Ada beberapa wisatawan yang memang sengaja membawa kamera, walau itu sekedar kamera kompak ataupun kamera handphone. Nah, bagaimana dengan mereka yang datang tidak mempersiapkan alat dokumentasi ? Berikut kisah tentang mereka para fotografer di tempat wisata. Yang siap mendokumentasikan kunjungan wisata anda lewat foto.


fotografer wisata, kisah fotografer, foto langsung jadi, Monas
Contoh Foto Langsung Jadi
Suatu sore di Tugu Monas

Sunday, 22 February 2015

Senandung Cerita Foto Wayang Orang Bharata #Backstage



foto make up di Wayang Orang Bharata
Gedung Wayang Orang Bharata Purwa di Jalan Kalilio Senen Jakarta Pusat
Sekian puluh tahun penulis hidup di Kota Jakarta. Dan sudah keberapa ratus kali melewati sebuah gedung tua di bilangan Senen Jakarta, tepatnya di Jalan Kalilio. Tak sekalipun penulis pernah melihat kedalam atau menyambangi tempat ini. Apalagi menonton pertunjukan wayang orang yang memang menjadi tontonan andalan. Wayang Orang Bharata Purwa, itulah nama gedung tersebut. Dan ketika diajak seorang teman (Makasih buat Dimas), penulis tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Perlengkapan memotret dibawa hingga tripod. Pikiran sudah mengawang ingin motret ini itu ketika sampai dilokasi nanti. Jujur saja, tidak ada gambaran sama sekali untuk memotret pertunjukan wayang orang. Berbagai pertunjukan panggung, pernah penulis potret. Tapi untuk motret wayang orang, penulis sempat mengernyitkan dahi. Bisa apa gak ya ? Kira-kira motret apa selain pertunjukan tersebut. Dan akhirnya, penulis pun akhirnya menyusun berbagai rencana. Mulai dari ketemu dengan pihak Wayang Orang Bharata, sekedar bertanya apa dan bagaimana cerita tentang Wayang Orang Bharata Purwa, lalu memotret beberapa persiapan jelang pertunjukan, dan juga memotret pertunjukan tersebut tentunya. Dan untuk tulisan Wayang Orang Bharata ini, penulis akan bagi beberapa bagian. Untuk yang pertama, penulis ingin berbagi tentang persiapan di belakang panggung sebelum mereka mementaskan pertunjukan tersebut. Dan sebelumnya terima kasih juga buat Mba Wita fotografer Wayang Orang Bharata, lalu Mas Aji dan juga Rudolf (fotografer khusus panggung) yang sudah kasih kesempatan untuk penulis berkunjung ke tempat ini.

Friday, 20 February 2015

Senandung Sisi Lain Cerita Anak Pinggir Pantai


foto pantai. memotret pantai. Pantai Teluk Penyu Jateng
Suasana Pagi di Teluk Penyu. Exposure kamera pada f;5,6 1/40 ISO 200
Memandang laut lepas, tak hentinya berdecak kagum. Penuh ragam jika memandang kedepan. Penuh warna dari sudut sinar cahaya. Dan mata sepertinya tak henti memandang sekeliling. Begitu Maha nya Sang Pencipta. 

Terbentang sebuah gambaran hidup dari tepi laut. Hidup yang penuh tantangan, hidup yang memang harus dijalani sekeras apapun. Dan mereka para penduduk tepi pantai mengenal betul betapa kerasnya hidup. Pergi melaut, menjala ikan, kemudian kembali lagi ke daratan untuk menjual hasil tangkapan, semua dilakukan hampir tiap hari. Cuaca bagus dan musim ikan adalah sesuatu yang membahagiakan mereka. Dengan hasil tangkapan yang banyak, setidaknya para nelayan tersebut bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Tapi bila cuaca buruk, mereka juga kadang tetap harus pergi melaut. Semua dilakukan demi keluarga walau harus bertaruh nyawa. Itu sepenggal cerita dari kehidupan mereka yang memang mengandalkan laut sebagai tempat mencari nafkahnya. Dibalik semua itu, mereka sebenarnya juga ingin punya kehidupan yang lebih baik, terutama untuk anak-anak mereka. Anak-anak yang memang butuh makan, anak-anak yang memang harus sekolah serta anak-anak yang memang harus menikmati "dunianya" anak-anak sebagaimana mestinya. Kehidupan anak-anak di tepi pantai penuh kegembiraan dan permainan. Mereka begitu menikmati dunianya. dunia laut. Bukan seperti anak-anak kota yang sudah terpapar permainan gadget, televisi, game console. Bukan seperti anak-anak kota yang tiap minggu harus ke mal atau ke tempat permainan yang lebih "bergengsi". Anak-anak laut bukan tak ingin seperti itu, mereka juga ingin, bahkan sangat ingin. Saat penulis berada di pantai ini, penulis sempat bertanya kepada salah satu anak yang sedang bermain. "Kamu sudah pernah ke Jakarta ?". Dijawab, belum. "Kalau kamu ke Jakarta, inginnya kemana ?". Jawabannya singkat, tapi bikin hati agak miris. "Aku pengin lihat Monas". Keinginan yang tak begitu muluk. Seperti kehidupan mereka sehari yang memang tak terlalu muluk-muluk. Sehabis pulang sekolah, mereka biasanya akan menuju pantai bersama teman-teman. Atau yang sekolahnya berangkat siang, mereka sempatkan untuk membantu ayah mereka sekedar membawakan hasil tangkapan .

Friday, 13 February 2015

Senandung Roda Kehidupan Penjahit Pinggir Jalan (Foto Human Interest)

Foto Human Interest. Kisah penjahit


Menyusuri jalanan Ibukota Jakarta selalu saja ada yang menarik perhatian penulis. Dan suatu hari, langkah kaki terhenti dipinggir jalan daerah Manggarai. Berjejer sekitar lima penjahit pinggir jalan dengan kesibukan masing-masing. Ada yang sedang menikmati kopi pagi, ada yang sedang mempersiapkan alat-alat kerja, bahkan sudah ada yang  menerima order menjahit hari itu. Sementara tenda seadanya mereka pasang untuk sekedar terhindar dari terik matahari dan hujan. Wilayah ini memang terkenal dengan tempat mangkalnya para penjahit pinggir jalan. Dengan bermodal mesin jahit tua, lalu perlengkapan menjahit seperti benang beraneka warna, jarum, gunting, pisau, mereka "berjibaku" mengais rejeki dari keterampilan mereka menjahit. Salah satunya adalah Mbah Roni (76 tahun). Pria usia lanjut asal Kebumen Jawa Tengah ini pun mencoba mengadu nasib di hingar bingarnya Ibukota Jakarta. Mengawali kerja sebagai tenaga bangunan ketika pertama kali datang ke Jakarta, dan ketika usia terus merambat sementara tenaga sudah hampir "habis" membuat Mbah Roni banting setir menjadi seorang penjahit di tahun 80an. Semua ia lakukan demi untuk menyambung hidup  keluarganya di kampung sana. " Saya sudah tua Mas, tenaga saya sudah kalah dengan yang muda-muda, kebetulan saya bisa menjahit sewaktu muda, jadi saya gunakan kebisaan saya ini (menjahit)" Mbah Roni  mengawali pembicaraan sembari menyalakan rokoknya. Tak lama kemudian datang seorang pria menghampiri Mbah Roni.

Tuesday, 4 June 2013

Banjir (Jangan ) Datang lagi - Jakarta Januari 2013


Ba
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Chip Foto Video edisi Maret 2013.
Foto &Teks : Farid Syamsuri
Banjir yang melanda Jakarta pertengahan Januari 2013 sungguh menyesakan dada. Terlepas dari besar kecilnya air banjir, terlepas dari segala perbandingan-perbandingan antara tahun-tahun sebelumnya dengan tahun sekarang, tetap saja banjir menyisakan penderitaan buat kita semua. Baik yang mengalami ataupun tidak. Banjir yang merendam beberapa wilayah di Jakarta saat itu, setidaknya hampir “melumpuhkan” suasana di Ibukota. Beberapa sarana dan prasarana yang ada tak luput dari hampiran air banjir ini. Banjir tak mengenal daerah, wilayah atau negara sekalipun. Dia datang mengalir begitu saja. Menumpahkan segala airnya ke penjuru yang dianggap rendah. Lihat saja beberapa jalan protokol yang sehari-harinya begitu padat dengan arus kendaraan, justru saat itu berganti dengan arus air. Wilayah-wilayah pemukiman penduduk baik yang sudah menjadi “langganan” banjir ataupun tidak pun tak luput dari “singgahan” air banjir yang selain disebabkan curah hujan yang tinggi di wilayah Jakarta juga adanya banjir kiriman dari wilayah Bogor melalui sungai Ciliwung. Selalu ada hikmah dibalik kejadian. Dan seharusnya kita tak menuding pihak manapun untuk disalahkan akibat banjir yang melanda. Lebih baik kita menjaga, agar kedepannya banjir ini tak terjadi lagi. Dan semua itu harus dimulai dari kita. Termasuk saya.
Depan Sarinah Thamrin - Jakarta Pusat


Menikmati "bebas macet" di Jl. Thamrin

Fly Over Jatibaru Tanah Abang


Biasanya Jalan Thamrin Penuh dengan Kendaraan, tapi saat itu.........


TPU Karet Jakarta Pusat


Rumah Orangtuaku pun tak luput dari Banjir.....



Mengais Rejeki - Fly Over Kampung Melayu