Siang begitu terik. Suhu udara begitu panas saat itu. Disalah satu sudut kota Jakarta. Dibalik gedung dan beberapa pusat perbelanjaan. Ada satu wilayah yang menyimpan keunikan tersendiri dalam hal transportasi. Kampung Bandan tepatnya. Di wilayah yang padat penduduk ini, terdapat bentangan rel milik PT Kereta Api Indonesia yang sudah tidak terpakai. Rel yang menghubungkan antara Stasiun Tanjung Priok dan Stasiun Kota. Tidak ada yang tahu pasti, sejak kapan rel ini sudah tidak berfungsi. Ada yang mengatakan dari tahun 1995, ada pula yang mengatakan dari tahun 1998.
Senandung merupakan sebuah ungkapan. Kala sedih dan gembira, biasanya orang akan bersenandung. Begitu juga dengan saya, akan tetap bersenandung lewat fotografi
Photo
Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts
Sunday, 25 October 2015
Wednesday, 23 September 2015
Kisah Seorang Pengrajin Bambu Dalam Sebuah Foto (Human Interest)
Lalu lalang kendaraan seperti tidak diperdulikan. Dirinya tetap asyik mengerjakan pekerjaannya. Memilah, memilih dan membelah beberapa batang bambu lalu dijadikan berbagai bentuk. Seperti siang itu, terlihat dia sedang membuat brongsong (alat pemetik buah). Lewat tangannya yang sudah keriput namun masih kuat, ia membelah beberapa batang bambu, lalu dipotong menjadi beberapa bagian tipis. Beberapa potongan tipis dihaluskan lalu dianyam dengan potongan bambu lain membentuk kerucut. Selesai, lalu bagian ujung terkecil ia ikat dengan tali sabut kemudian dikaitkan dengan
Saturday, 22 August 2015
Senandung Foto Kampung Pulo
Laju roda pembangunan terus berputar. Suka tidak suka, mau tidak mau, itu semua harus kita ikuti. Pembangunan itu dilakukan demi kepentingan bersama, bukan kepentingan segelintir orang. Bukan kepentingan orang yang berduit. Tapi memang pembangunan itu dilakukan untuk kita menjadi lebih baik. Untuk sebuah kenyamanan, ketertiban, bahkan taraf hidup. Walau pembangunan kadang menyisakan efek tersendiri. Pembangunan kadang meninggalkan cerita sedih. Cerita yang "terpaksa" harus terputus. Dan sepenggal cerita sedih itu terjadi di wilayah Kampung Pulo Jakarta pada 20 Agustus 2015. Wilayah yang harus terkena salah satu pembangunan dari sekian banyak pembangunan yang sedang bahkan akan berlangsung di negeri ini. Menjadi orang yang terusir bahkan diusir adalah hal yang tidak mengenakan. Seolah ada kekuatan besar yang tak terbendung antara si kuat dengan si lemah. Tapi dalam hal pembangunan mungkin tak ada si kuat dan si lemah. Yang ada hanya sebuah kepentingan yang memang untuk menuju lebih baik. Jalan menuju baik, kadang harus ada pengorbanan. Pengorbanan yang sifatnya bukan sekedar materi, kedudukan atau bahkan jabatan. Tapi lebih dari itu,
Sunday, 9 August 2015
Sehari Bersama Para Fotografer Lawas
![]() |
Kami hanya ingin berbagi hari itu. Berbagi nostalgia kami saat dulu bersama teman sejawat, teman seperjuangan, berbagi cerita apa-apa yang dulu pernah kami lakukan yang mengundang decak kagum, mengundang kekonyolan,bahkan mengundang tawa.
Friday, 15 May 2015
Senandung Foto Kisah Tukang Ojek Sepeda
![]() |
| Menuntun Sepeda |
Tuesday, 5 May 2015
Senandung Kisah Fotografer Wisata di Monas Jakarta
Mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Indonesia tentu
masing-masing orang mempunyai tujuan yang hampir sama. Melihat, menyaksikan
sendiri keindahan, ikon atau lambang suatu daerah, benda-benda peninggalan yang
mungkin menjadi ciri tersendiri, dan sebagainya. Dan kesemua itu mungkin tidak
akan lengkap jika tidak adanya dokumentasi. Baik berupa video ataupun foto. Ada
beberapa wisatawan yang memang sengaja membawa kamera, walau itu sekedar kamera
kompak ataupun kamera handphone. Nah, bagaimana dengan mereka yang datang tidak
mempersiapkan alat dokumentasi ? Berikut kisah tentang mereka para fotografer
di tempat wisata. Yang siap mendokumentasikan kunjungan wisata anda lewat foto.
![]() |
| Contoh Foto Langsung Jadi |
Suatu sore di Tugu
Monas
Sunday, 22 February 2015
Senandung Cerita Foto Wayang Orang Bharata #Backstage
![]() |
| Gedung Wayang Orang Bharata Purwa di Jalan Kalilio Senen Jakarta Pusat |
Friday, 20 February 2015
Senandung Sisi Lain Cerita Anak Pinggir Pantai
![]() |
| Suasana Pagi di Teluk Penyu. Exposure kamera pada f;5,6 1/40 ISO 200 |
Memandang laut lepas, tak hentinya berdecak kagum. Penuh ragam jika memandang kedepan. Penuh warna dari sudut sinar cahaya. Dan mata sepertinya tak henti memandang sekeliling. Begitu Maha nya Sang Pencipta.
Terbentang sebuah gambaran hidup dari tepi laut. Hidup yang penuh tantangan, hidup yang memang harus dijalani sekeras apapun. Dan mereka para penduduk tepi pantai mengenal betul betapa kerasnya hidup. Pergi melaut, menjala ikan, kemudian kembali lagi ke daratan untuk menjual hasil tangkapan, semua dilakukan hampir tiap hari. Cuaca bagus dan musim ikan adalah sesuatu yang membahagiakan mereka. Dengan hasil tangkapan yang banyak, setidaknya para nelayan tersebut bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Tapi bila cuaca buruk, mereka juga kadang tetap harus pergi melaut. Semua dilakukan demi keluarga walau harus bertaruh nyawa. Itu sepenggal cerita dari kehidupan mereka yang memang mengandalkan laut sebagai tempat mencari nafkahnya. Dibalik semua itu, mereka sebenarnya juga ingin punya kehidupan yang lebih baik, terutama untuk anak-anak mereka. Anak-anak yang memang butuh makan, anak-anak yang memang harus sekolah serta anak-anak yang memang harus menikmati "dunianya" anak-anak sebagaimana mestinya. Kehidupan anak-anak di tepi pantai penuh kegembiraan dan permainan. Mereka begitu menikmati dunianya. dunia laut. Bukan seperti anak-anak kota yang sudah terpapar permainan gadget, televisi, game console. Bukan seperti anak-anak kota yang tiap minggu harus ke mal atau ke tempat permainan yang lebih "bergengsi". Anak-anak laut bukan tak ingin seperti itu, mereka juga ingin, bahkan sangat ingin. Saat penulis berada di pantai ini, penulis sempat bertanya kepada salah satu anak yang sedang bermain. "Kamu sudah pernah ke Jakarta ?". Dijawab, belum. "Kalau kamu ke Jakarta, inginnya kemana ?". Jawabannya singkat, tapi bikin hati agak miris. "Aku pengin lihat Monas". Keinginan yang tak begitu muluk. Seperti kehidupan mereka sehari yang memang tak terlalu muluk-muluk. Sehabis pulang sekolah, mereka biasanya akan menuju pantai bersama teman-teman. Atau yang sekolahnya berangkat siang, mereka sempatkan untuk membantu ayah mereka sekedar membawakan hasil tangkapan .
Friday, 13 February 2015
Senandung Roda Kehidupan Penjahit Pinggir Jalan (Foto Human Interest)
Menyusuri jalanan Ibukota Jakarta selalu saja ada yang menarik perhatian penulis. Dan suatu hari, langkah kaki terhenti dipinggir jalan daerah Manggarai. Berjejer sekitar lima penjahit pinggir jalan dengan kesibukan masing-masing. Ada yang sedang menikmati kopi pagi, ada yang sedang mempersiapkan alat-alat kerja, bahkan sudah ada yang menerima order menjahit hari itu. Sementara tenda seadanya mereka pasang untuk sekedar terhindar dari terik matahari dan hujan. Wilayah ini memang terkenal dengan tempat mangkalnya para penjahit pinggir jalan. Dengan bermodal mesin jahit tua, lalu perlengkapan menjahit seperti benang beraneka warna, jarum, gunting, pisau, mereka "berjibaku" mengais rejeki dari keterampilan mereka menjahit. Salah satunya adalah Mbah Roni (76 tahun). Pria usia lanjut asal Kebumen Jawa Tengah ini pun mencoba mengadu nasib di hingar bingarnya Ibukota Jakarta. Mengawali kerja sebagai tenaga bangunan ketika pertama kali datang ke Jakarta, dan ketika usia terus merambat sementara tenaga sudah hampir "habis" membuat Mbah Roni banting setir menjadi seorang penjahit di tahun 80an. Semua ia lakukan demi untuk menyambung hidup keluarganya di kampung sana. " Saya sudah tua Mas, tenaga saya sudah kalah dengan yang muda-muda, kebetulan saya bisa menjahit sewaktu muda, jadi saya gunakan kebisaan saya ini (menjahit)" Mbah Roni mengawali pembicaraan sembari menyalakan rokoknya. Tak lama kemudian datang seorang pria menghampiri Mbah Roni.
Tuesday, 4 June 2013
Banjir (Jangan ) Datang lagi - Jakarta Januari 2013
Ba
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Chip Foto Video edisi Maret 2013.
Foto &Teks : Farid Syamsuri
Banjir yang melanda Jakarta pertengahan Januari 2013 sungguh
menyesakan dada. Terlepas dari besar kecilnya air banjir, terlepas dari segala
perbandingan-perbandingan antara tahun-tahun sebelumnya dengan tahun sekarang,
tetap saja banjir menyisakan penderitaan buat kita semua. Baik yang mengalami
ataupun tidak. Banjir yang merendam beberapa wilayah di Jakarta saat itu,
setidaknya hampir “melumpuhkan” suasana di Ibukota. Beberapa sarana dan
prasarana yang ada tak luput dari hampiran air banjir ini. Banjir tak mengenal
daerah, wilayah atau negara sekalipun. Dia datang mengalir begitu saja.
Menumpahkan segala airnya ke penjuru yang dianggap rendah. Lihat saja beberapa
jalan protokol yang sehari-harinya begitu padat dengan arus kendaraan, justru
saat itu berganti dengan arus air. Wilayah-wilayah pemukiman penduduk baik yang
sudah menjadi “langganan” banjir ataupun tidak pun tak luput dari “singgahan”
air banjir yang selain disebabkan curah hujan yang tinggi di wilayah Jakarta juga
adanya banjir kiriman dari wilayah Bogor melalui sungai Ciliwung. Selalu ada
hikmah dibalik kejadian. Dan seharusnya kita tak menuding pihak manapun untuk
disalahkan akibat banjir yang melanda. Lebih baik kita menjaga, agar kedepannya
banjir ini tak terjadi lagi. Dan semua itu harus dimulai dari kita. Termasuk
saya.
![]() |
| Depan Sarinah Thamrin - Jakarta Pusat |
![]() |
| Menikmati "bebas macet" di Jl. Thamrin |
![]() |
| Fly Over Jatibaru Tanah Abang |
![]() |
| Biasanya Jalan Thamrin Penuh dengan Kendaraan, tapi saat itu......... |
![]() |
| TPU Karet Jakarta Pusat |
![]() |
| Rumah Orangtuaku pun tak luput dari Banjir..... |
![]() |
| Mengais Rejeki - Fly Over Kampung Melayu |
Subscribe to:
Posts (Atom)



















