UA-72643545-1

Photo

Wednesday, 25 July 2012

Senandung Foto Karikatur

Ingin nuansa lain dari hasil karya foto anda ? Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam mengolah sebuah foto. Dengan menggunakan banyak software yang ada (unduh gratis), karya foto kita bisa buat sesuai keinginan kita. Mungkin lebih diperindah, di tambah sana-sini, dan sebagainya. Kali saya mencoba membuat suasana lain dari karya foto saya. Bukannya bosan, tapi terbersit ketika sempat mampir ke toko buku dan melihat sebuah buku tentang karikatur. Sejujurnya saya penyuka karikatur. Penuh dengan pesan, kekuatan karakter, sindiran, bahkan sifat dari yang ada di foto tersebut bisa menambah nuansa tersendiri. Terkadang gambar yang dibuat bisa mengundang kelucuan dan kegelian bagi yang melihatnya. Namun untuk membuat karikatur itu sendiri, (sebelum membaca buku tentang karikatur) saya tidak mempunyai "nyali" untuk membuatnya. Pertama karena saya tidak jago menggambar, kedua saya hanya sebagi penikmat dan sering terkagum-kagum dengan para seniman karikatur. Ide dan penggambaran karakter itu yang membuat saya kagum. Terima kasih buat teknologi. Karena ternyata software untuk membuat karikatur tersebut ada di komputer saya. Dulu pernah mencoba dengan sofware gratisan, tapi gagal total. Nah, kali ini saya mencoba memberanikan diri untuk membuat karikatur ini. Dan berikut beberapa hasil karya saya. Sekali lagi, karikatur yang saya buat jangan menjadi acuan. Karya yang saya buat ini adalah bagian dari tugas saya untuk mencoba berbagai hal tentang fotografi. Saya yakin, hasil karya anda akan lebih bagus dan lebih berkarakter. Dan untuk seluruh seniman karikatur, salut untuk anda. Karya-karya anda pun bisa mengubah dunia.
Jalan2 di Malioboro
Pernikahan Kami

Bin Family
Keponakan


My Self
My Sister
Lintang
Mother's Cup Cake





Thursday, 12 July 2012

Senandung Memotret Ekspresi Anak

Susah-susah gampang ketika kita memotret anak. Dunia anak adalah dunia tersendiri. Dunia yang penuh dengan keceriaan dan bermain. Dunia yang penuh dengan kepolosan. Gelak tawa, tangis, senang, sedih, semuanya akan diekspresikan dengan cara yang berbeda dari setiap anak. Memotret anak, selain dibutuhkan kesabaran, pendekatan, juga dibutuhkan kecepatan memotret moment.  Tak akan ada artinya bila teknik memotret kita bagus, namun dalam hal mendekati anak saja kita tidak bisa. Banyak hal yang dapat kita lakukan kala memotret anak. Tidaklah harus ketika mereka berpakaian bagus, tidaklah harus disuruh menghadap kamera seraya mengucap " cheeerrrsss....anakku", "senyum doong nak" lalu ...tekan rana. Foto anak yang bagus menurut saya adalah ketika mereka sedang melakukan aktifitas dengan natural. Dalam artian aktifitas tersebut bukanlah sesuatu yang dipaksakan. Contoh sedang makan, bermain, bercanda. Atau aktifitas yang disuka oleh anak. Maka disitulah kita bisa merekam segala peristiwa dengan memotretnya. Ekpresinya pun akan terlihat lebih enak dilihat, karena memang natural. Kepolosan adalah sebuah ekspresi, tugas kita mengabadikan mereka dalam sebuah foto dengan kepolosan yang tercermin dari dunia anak tanpa harus memaksakan kehendak berpose. Biarlah mereka berpose dengan gayanya. Gaya anak-anak. Selamat mencoba.








Foto-foto & Teks : Farid S

Baca Juga :


Senandung Memotret Dengan Kecepatan Rendah
Memotret Tetes Air dengan lensa kits
Memotret Buah Jatuh Ke Air
Senandung Memotret Wayang Orang (Tips dan Trik)

Wednesday, 27 June 2012

Pada Sebuah Desa


Desaku yang kucinta , Pujaan hatiku...
Tempat Ayah dan Bunda dan handai tolanku...
Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai..
Selalu ku rindukan, desaku yang permai....


Kamera Nikon D80 ISO 100 Lensa 70-300mm f;4,5
Olah digital pada warna kabut dengan brigtness contras

Begitulah sepenggal lagu "Desaku", yang saat di Sekolah Dasar seringkali dinyanyikan. Desa adalah sebuah tempat yang bagi orang kota, terletak jauh sekali dari keramaian. Kalo orang Jakarta bilang kampung.


 
Kamera Nikon D80 ISO 100 Lensa 70-300mm f;4,5
Olah digital pada awan dan matahari


 Tidak ada orang Jakarta yang bilang Pulang Desa, pasti bilang Pulang Kampung ketika para perantau akan kembali ke daerahnya masing-masing.  Terlepas dari apapun namanya, toh desa tetap desa. Tempat dimana bagi sebagian orang sebagai tempat lahir, bersekolah, pergi ke surau, bermain bersama teman saat kecil, mandi di sungai, pergi kesawah atau ladang dan sebagainya. Bagi sebagian orang tentu kampung halaman mempunyai cerita tersendiri dan beragam.



Kamera Nikon D80 ISO 100 Lensa 70-300mm f;4,5
olah digital pada warna langit
Penuh kenangan pastinya. Saya mencoba mengingat kembali akan keberadaan desa yang bagi saya punya kenangan tersendiri. Saya tidak lahir di desa ini, namun besar dan pernah bersekolah di desa ini. Begitu menyenangkan ketika memotret lokasi dimana saya dulu pernah bermain, mandi di sungai, mencari belut, keong, menginjak sawah orang yang baru tanam, membantu panen padi, semuanya terlintas kembali kenangan masa  kecil.

Kamera Nikon D80 ISO 100 Lensa 70-300mm f;4,5
Olah digital pada warna


Namun tidak semua foto dapat saya hadirkan disini, tapi setidaknya saya mencoba memberikan sebuah gambaran tentang arti sebuah desa buat saya. Dalam balutan suasana pagi, inilah potret desa yang memberi arti tersendiri buat saya. Desa Maos Lor. Salam buat sahabat-sahabat kecil saya disana.


Kamera Nikon D80 ISO 100 Lensa 70-300mm f;4,5
olah digital pada warna dan efek Rel Of Light


Foto & Teks : Farid S

Wednesday, 25 January 2012

Memotret Air Tumpah


Teks&Foto: Farid S.

Tulisan saya ini pernah dimuat di majalah CHIP Foto · Video 02/2012 edisi 59 . Sengaja saya munculkan di blog ini, selain untuk berbagi dengan teman-teman lain juga untuk dokumen saya sendiri. Buat yang pernah membaca artikel ini baik di majalah dan blog ini saya haturkan terima kasih . Semoga bermanfaat.

Splash on Table Top



Foto air tumpah. Foto air
Gelas yang Ditumpahkan dengan bantuan teman.

Masih ingat dengan table top buatan Bin di edisi bulan lalu ? Kali ini penulis diberi kesempatan untuk mencoba sendiri bagaimana memotret
menggunakan table top tersebut.
Dari sedemikian banyak ide memotret di table top ini akhirnya

pilihan jatuh pada memotret air. Gerakan air adalah sesuatu yang indah

untuk di potret. Dan saya yakin, pembaca pun pernah melakukan pemotretan
ini dengan hasil yang lebih bagus tentunya.

Teknik dan cara pemotretan air ini sebelumnya pernah dibahas di majalah ini pada edisi-

edisi lalu. Yang membahas bagaimana memotret tetesan dan percikan

air, lalu cara bagaimana menumpahkan gelas yang berisi air. Dan

kali ini gerakan air yang dipotret adalah kombinasi antara keduanya.

Semoga tulisan ini menjadi inspirasi buat pembaca untuk memotret air

dengan hasil yang lebih baik. Selamat mencoba.


Persiapan

Tuesday, 4 October 2011

Banyak Hal Yang Bisa Kita Lakukan

Apapun kebisaan kita, tentu banyak hal yang bisa kita lakukan demi mempertajam kebisaan tersebut. Berbagi ilmu tentu saja tidak akan mengurangi sedikitpun ilmu yang kita punya. Justru semakin banyak saja yang kita dapat. Begitu juga dengan fotografi. Sebisa mungkin saya pribadi mencoba berbagi dengan siapa saja yang memang ingin belajar fotografi.  Sejujurnya, ilmu saya tidak terlalu tinggi dalam dunia fotografi, dibanding dengan mereka yang justru belajar (fotografi) belakangan. Namun, ketika bertemu dengan Arbain Rambei, Oscar Motullah, Gunadi Haryanto, Don Hasman, Suhery Arno, dan beberapa fotografer senior  lain dan mendengar cerita mereka saat awal belajar fotografi. Hati ini begitu tergerak. Tergerak dengan loyalitas mereka di dunia fotografi. Walau dengan latar belakang yang berbeda ketika mempelajari fotografi, namun akhirnya mereka bertujuan sama, memajukan fotografi Indonesia. Saya bukan siapa-siapa dan tak terlalu bisa dalam dunia fotografi. Namun sebisa mungkin saya terus belajar, belajar dan belajar. Dari hal-hal yang saya ketahui, saya mencoba berbagi dengan teman-teman yang ingin belajar fotografi. Walau sedikit, setidaknya saya ingin berbagi. Dan mudah-mudahan dari berbagi ilmu ini, ilmu saya pun bisa semakin bertambah. Karena biar bagaimanapun, satu generasi akan tergerus dan tergantikan oleh generasi berikutnya. Selamat belajar fotografi.


Monday, 21 February 2011

Suatu Sore........

Babe Joni (62)


Pak Udin, memulai memulung di usia 10 tahun



Seorang suami sedang menunggu istri dan anaknya


Menyusuri sudut Jakarta sore itu membawa kaki ini melangkah pada suatu tempat yang jauh dari keramaian. Sekedar ingin menghilangkan penat dari rutinitas, akhirnya membawa pikiran dan keingintahuan tentang apa dan siapa mereka. Mereka mungkin sering dicemooh bahkan dihina. Tak jarang bahkan pengusiran pun kerap dilakukan terhadap mereka. Dan mereka pun merasa sebagai yang terpinggirkan. Menjadi pemulung mungkin bukan hal yang diidamkan oleh mereka. Keadaan, keterbatasan, bahkan kemampuan merkalah yang akhirnya menjalankan profesi ini. Ditengah karut marut di negeri yang katanya berlimpah kekayaan alam, mereka seolah berjuang sendirian sesama komunitasnya. Berjuang untuk tetap hidup, berjuang mencari nafkah untuk keluarganya hanya dengan bermodalkan gerobak atau karung yang disangkutkan di pundak dan besi panjang yang ujungnya melengkung lancip. Kardus, kertas koran, plastic, botol, atau barang bekas yang layak dijual menjadi komoditasnya. Tak perduli panas atau hujan, mereka berjalan menyusuri sudut kota, entah perumahan, pinggir kali atau gang-gang sempit hanya untuk memungut apa yang diharapkan. Buat kita barang-barang diatas adalah sampah ketika sudah tidak digunakan, tapi buat mereka, itu bagaikan sebuah ‘emas’ yang layak untuk bisa dijual.


Sebut saja Pak Udin (43), memulung dari mulai usia 10 tahun. Memulai pekerjaan ini saat sebutannya masih “Tukang Beling” hingga sekarang. Bukan tak ada pekerjaan lain, tapi keterbatasan serta kemampuannya yang akhirnya ia harus menjalankan profesi ini. Suka duka tentu sudah dialami oleh pria beranak dua dalam menjalankan pekerjaannya. Masa keemasan pun pernah dialaminya. Ketika saat dulu, pemulung tidak begitu banyak, sementara ‘sampah-sampah’ begitu bertebaran hingga membuat dirinya saat itu ‘panen’ setiap saat. Bandingkan dengan sekarang, pemulung begitu banyak, dan tentu saja ini makin mempersempit wilayah memungutnya. Jam 4 pagi hingga jam 8 malam , adalah jam kerja wajib buat mereka. Dimulai dengan memulung sampah di berbagai wilayah, siang kembali ke lapak untuk merapikan hasil pungutannya, lalu kemudian setelah ditimbang untuk kemudian dijual. Istirahat sebentar melepas lelah sembari bersiap-siap untuk menyusuri kembali jalan-jalan yang mungkin sudah menjadi target berikutnya. Jam 5 sore kembali lagi ke lapak, membereskan dan menjual hasil pungutannya hingga jam 8 malam. Begitulah hidup, buat mereka tak ada istilah makan siang gratis (mengharap belas kasihan), semua harus diusahakan untuk bisa menghidupi dirinya dan keluarganya. Lain lagi dengan Babe Joni, pria berusia 62 tahun ini masih terlihat tegap dan sigap mendorong gerobaknya hinggal puluhan kilo meter untuk mencari sesuap nasi dengan memulung. Pernah menjadi supir pribadi, entah karena apa, akhirnya ia memilih profesi ini di masa tuanya. Di komunitas mereka, ada istilah pemulung sejati. Dalam artian pekerjaan memang memulung, bukan “mencari kesempatan” dengan berkedok pemulung atau bahkan mengiba-iba dengan gerobak serta anak-anak kecil tertidur dipinggir jalan berharap belas kasihan dari orang yang melihatnya. Buat mereka memulung adalah pekerjaan halal, bukan mencuri. Pendapatan yang sedikit entah banyak, buat mereka selalu diterima dengan apa adanya. Pasrah dengan keadaan bukan berarti mereka tidak berusaha. Sekuat tenaga, mereka mengais rejeki dari sampah, hanya untuk memberikan yang terbaik buat keluarganya. Telapak kaki dan tangan yang mengeras seolah menggambarkan betapa kerasnya kehidupan Kota Jakarta.

Sunday, 1 August 2010

Senandung Yang (Mungkin) Indah di Keduanya

Siapa yang tak kenal dengan keindahan bunga ? Entah apa itu tanamannya, begitu tanaman tersebut di embel2i dengan kata bunga, maka yang terbayang adalah keindahan atau juga pesona dari bunga tersebut. Mau contoh ? Bunga Bangkai, Bunga Anggrek, Bunga Matahari dan lain sebagainya (gimana kalo Bunga Bank ? waah....sepertinya lebih menarik).

Siapa yang jijik melihat Ulat ? bahkan mendengar namanya ada sebagian orang yang langsung merinding karena membayangkan ulat itu berbulu, menempel di kulit dan gatal ! Ada benarnya tapi mungkin lebih banyak salahnya jika menganut paham tersebut. Tidak semua ulat itu berbulu dan mengakibatkan gatal. Banyak jenis ulat yang justru indah di lihat. Mungkin karena bentuknya, warnanya, bahkan perpaduan antara keduanya.

Dan foto saya kali ini mencoba menggabungkan antara Bunga dan Ulat. Dua2nya indah (menurut saya). Dua2nya seolah saling mengisi. Bunga dengan warna dominan putih dengan putik berwarna kuning. Ulat berwarna hitam dengan corak yang begitu indah. Namun dibalik pengambilan foto ini, ada 'sesuatu' yang saya rasakan. Seandainya yang (menurut) sebagian orang katakan bahwa Ulat itu menjijikan (buruk) dan hampir semua orang berkata bahwa Bunga itu indah dan jika keduanya diandaikan sebagai manusia, maka betapa indahnya, jika manusia yang tidak sempurna (dimata sebagian orang) bisa di tutupi dengan sesuatu yang sempurna. Alangkah indahnya bila sebuah ego bisa dienyahkan demi indahnya kebersamaan.