UA-72643545-1

Photo

Showing posts with label Panggung. Show all posts
Showing posts with label Panggung. Show all posts

Sunday, 29 May 2016

Memotret Pertunjukan Komedi Tali Jodo

Maudy Koesnaedi yang berperan sebagai Ibu dari Tali dan Jodo, sedang menunggu anaknya ditemani oleh Mandra yang berperan sebagai Paman
Maudy Koesnaedi yang berperan sebagai Ibu dari Tali dan Jodo,
sedang menunggu anaknya ditemani oleh Mandra yang berperan sebagai Paman
Menonton sebuah pertunjukan panggung jangan pernah berharap akan mendapati sorot  cahaya dari tata lampu yang "melimpah". Sekali lagi, bahwa tata cahaya pada sebuah pertunjukan pada dasarnya memang tidak pernah dimaksudkan untuk sebuah pemotretan. Tapi unutk dinikmati, karena tata cahaya tersebut adalah sebagian dari alur cerita yang melengkapi pertunjukan tersebut. Adalah tugas kita, yang bagaimana caranya justru harus bisa mengartikan dari suasana panggung tersebut dalam sebuah foto. Tugas kita, yang tentu saja kembali ke selera kita sendiri, untuk bisa menjadi "mata" bagi penonton yang lain lewat karya foto, agar orang lain bisa menikmati pertunjukan tersebut walau tidak hadir dalam pertunjukan tersebut.

Komedi Tali Jodo 

Sunday, 29 November 2015

Pentas Nyonya Nomor Satu ( ada Rasa Papiko )

pentas, foto teater, foto komedi, nyonya nomor satu, butet kertaradjasa, agus noor, titik puspa, happy salma, Taman Ismail Marzuki, foto panggung, teater
Panggung Nyonya Nomor Satu
Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta terpaksa harus menambah jam pertunjukan pentas. Dari dua jadwal pertunjukan yang direncanakan, terpaksa harus ditambah satu lagi. Ini atas permintaan para penonton yang tidak kebagian karcis untuk menonton pertunjukan yang diadakan oleh Djarum Apresiasi Budaya. Mengusung tiga nama yang memang selalu menjadi tandem sebagai Tim Kreatif yaitu Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto dan Agus Noor, pementasan yang berjudul Nyonya Nomor Satu ini terbilang membawa

Tuesday, 10 March 2015

Dian Pramana Poetra Dalam Balutan Foto

dian pramana poetra
Dian Pramana Poetra
Niat hati pengin nurunin tulisan di blog setelah pulang nonton pertunjukannya. Apa daya kegiatan lain udah menunggu. Walau hati terus kepikiran untuk segera menulis tentang penyanyi ini. Penulis bukanlah seorang pengamat musik. Tapi ketika mendengar Dian Pramana Poetra akan tampil di ajang Java Jazz Festival 2015, penulis benar-benar niat untuk memotret penyanyi berusia 54 tahun tersebut. Bukan apa-apa, ingat Dian Pramana Poetra, pikiran melayang saat masa SMP dulu. Dimana saat itu penulis pinjam kaset dari seorang teman (makasih buat Nini Winarni untuk pinjaman kasetnya). Pinjam kaset hanya tertarik dengan lagu Keraguan (1987) , dinyanyikan bareng Dedy Dhukun lewat kelompok 2D. Tapi kok beberapa lagunya agak mengena dihati. Walau jujur saja, saat dulu jenis musiknya Dian PP agak berbeda dengan penyanyi-penyanyi di era nya.

dian pramana poetra, java jazz festival 2015
Panggung Java Jazz Festival Maret 2015, D1 Hall


Tuesday, 24 February 2015

Mari Kita Nonton Wayang Orang

memotret wayang orang Bharata Jakarta
Marsam Mulyoatmodjo Ketua Paguyuban Wayang Orang Bharata Purwa Jakarta
Wayang orang belumlah habis. Marsam Mulyoatmodjo adalah salah satu saksi hidup, mulai masa jayanya wayang orang, runtuhnya, bahkan bangkitnya kembali wayang orang. Pria yang juga pernah ikut jadi pemain ludruk dan ketoprak bercerita, di tahun 60 sampai 70an dulu di daerah Jawa ada ratusan group wayang orang profesional. Tahun 1974 mulai group wayang berguguran satu persatu. Dan saat ini untuk group yang profesional hanya tinggal Wayang Bharata Purwa di Jakarta, Pandowo di Semarang dan Sriwedari di Solo. Profesional disini maksudnya adalah mempunyai panggung sendiri dan rutin mengadakan pertunjukan. Pernah mengalami masa sulit yaitu sewaktu masa reformasi 1998. Karena keadaan saat itu terjadi suhu politik yang memanas. Sehingga penonton yang datang untuk menonton pertunjukan tidak banyak . "Tapi kita tidak mengenal paceklik. Mau yang nonton hanya dua orang, kami tidak perduli, pertunjukan tetap harus berjalan" jelas lelaki yang termasuk pemain senior selain Ki Slamet dan Aris Mukadi. Di era sekarang, wayang orang rupanya mulai eksis kembali, sebagai contoh di Jakarta ini, ternyata sekarang banyak group-group amatir wayang orang. Dimana mereka sering berlatih entah untuk manggung atau sekedar berlatih.