UA-72643545-1

Photo

Monday, 21 February 2011

Suatu Sore........

Babe Joni (62)


Pak Udin, memulai memulung di usia 10 tahun



Seorang suami sedang menunggu istri dan anaknya


Menyusuri sudut Jakarta sore itu membawa kaki ini melangkah pada suatu tempat yang jauh dari keramaian. Sekedar ingin menghilangkan penat dari rutinitas, akhirnya membawa pikiran dan keingintahuan tentang apa dan siapa mereka. Mereka mungkin sering dicemooh bahkan dihina. Tak jarang bahkan pengusiran pun kerap dilakukan terhadap mereka. Dan mereka pun merasa sebagai yang terpinggirkan. Menjadi pemulung mungkin bukan hal yang diidamkan oleh mereka. Keadaan, keterbatasan, bahkan kemampuan merkalah yang akhirnya menjalankan profesi ini. Ditengah karut marut di negeri yang katanya berlimpah kekayaan alam, mereka seolah berjuang sendirian sesama komunitasnya. Berjuang untuk tetap hidup, berjuang mencari nafkah untuk keluarganya hanya dengan bermodalkan gerobak atau karung yang disangkutkan di pundak dan besi panjang yang ujungnya melengkung lancip. Kardus, kertas koran, plastic, botol, atau barang bekas yang layak dijual menjadi komoditasnya. Tak perduli panas atau hujan, mereka berjalan menyusuri sudut kota, entah perumahan, pinggir kali atau gang-gang sempit hanya untuk memungut apa yang diharapkan. Buat kita barang-barang diatas adalah sampah ketika sudah tidak digunakan, tapi buat mereka, itu bagaikan sebuah ‘emas’ yang layak untuk bisa dijual.


Sebut saja Pak Udin (43), memulung dari mulai usia 10 tahun. Memulai pekerjaan ini saat sebutannya masih “Tukang Beling” hingga sekarang. Bukan tak ada pekerjaan lain, tapi keterbatasan serta kemampuannya yang akhirnya ia harus menjalankan profesi ini. Suka duka tentu sudah dialami oleh pria beranak dua dalam menjalankan pekerjaannya. Masa keemasan pun pernah dialaminya. Ketika saat dulu, pemulung tidak begitu banyak, sementara ‘sampah-sampah’ begitu bertebaran hingga membuat dirinya saat itu ‘panen’ setiap saat. Bandingkan dengan sekarang, pemulung begitu banyak, dan tentu saja ini makin mempersempit wilayah memungutnya. Jam 4 pagi hingga jam 8 malam , adalah jam kerja wajib buat mereka. Dimulai dengan memulung sampah di berbagai wilayah, siang kembali ke lapak untuk merapikan hasil pungutannya, lalu kemudian setelah ditimbang untuk kemudian dijual. Istirahat sebentar melepas lelah sembari bersiap-siap untuk menyusuri kembali jalan-jalan yang mungkin sudah menjadi target berikutnya. Jam 5 sore kembali lagi ke lapak, membereskan dan menjual hasil pungutannya hingga jam 8 malam. Begitulah hidup, buat mereka tak ada istilah makan siang gratis (mengharap belas kasihan), semua harus diusahakan untuk bisa menghidupi dirinya dan keluarganya. Lain lagi dengan Babe Joni, pria berusia 62 tahun ini masih terlihat tegap dan sigap mendorong gerobaknya hinggal puluhan kilo meter untuk mencari sesuap nasi dengan memulung. Pernah menjadi supir pribadi, entah karena apa, akhirnya ia memilih profesi ini di masa tuanya. Di komunitas mereka, ada istilah pemulung sejati. Dalam artian pekerjaan memang memulung, bukan “mencari kesempatan” dengan berkedok pemulung atau bahkan mengiba-iba dengan gerobak serta anak-anak kecil tertidur dipinggir jalan berharap belas kasihan dari orang yang melihatnya. Buat mereka memulung adalah pekerjaan halal, bukan mencuri. Pendapatan yang sedikit entah banyak, buat mereka selalu diterima dengan apa adanya. Pasrah dengan keadaan bukan berarti mereka tidak berusaha. Sekuat tenaga, mereka mengais rejeki dari sampah, hanya untuk memberikan yang terbaik buat keluarganya. Telapak kaki dan tangan yang mengeras seolah menggambarkan betapa kerasnya kehidupan Kota Jakarta.

Sunday, 1 August 2010

Senandung Yang (Mungkin) Indah di Keduanya

Siapa yang tak kenal dengan keindahan bunga ? Entah apa itu tanamannya, begitu tanaman tersebut di embel2i dengan kata bunga, maka yang terbayang adalah keindahan atau juga pesona dari bunga tersebut. Mau contoh ? Bunga Bangkai, Bunga Anggrek, Bunga Matahari dan lain sebagainya (gimana kalo Bunga Bank ? waah....sepertinya lebih menarik).

Siapa yang jijik melihat Ulat ? bahkan mendengar namanya ada sebagian orang yang langsung merinding karena membayangkan ulat itu berbulu, menempel di kulit dan gatal ! Ada benarnya tapi mungkin lebih banyak salahnya jika menganut paham tersebut. Tidak semua ulat itu berbulu dan mengakibatkan gatal. Banyak jenis ulat yang justru indah di lihat. Mungkin karena bentuknya, warnanya, bahkan perpaduan antara keduanya.

Dan foto saya kali ini mencoba menggabungkan antara Bunga dan Ulat. Dua2nya indah (menurut saya). Dua2nya seolah saling mengisi. Bunga dengan warna dominan putih dengan putik berwarna kuning. Ulat berwarna hitam dengan corak yang begitu indah. Namun dibalik pengambilan foto ini, ada 'sesuatu' yang saya rasakan. Seandainya yang (menurut) sebagian orang katakan bahwa Ulat itu menjijikan (buruk) dan hampir semua orang berkata bahwa Bunga itu indah dan jika keduanya diandaikan sebagai manusia, maka betapa indahnya, jika manusia yang tidak sempurna (dimata sebagian orang) bisa di tutupi dengan sesuatu yang sempurna. Alangkah indahnya bila sebuah ego bisa dienyahkan demi indahnya kebersamaan.

Thursday, 15 July 2010

Senandung Anakku Lintang







Lahir 14 September 2002. Terlahir dengan nama Lintang Tanjoeng Samudhera. Adalah saat-saat yang menyenangkan ketika ia terlahir ke dunia. Perasaan bahagia, haru, senang, dan haru biru menjadi satu. Dialah anak lelaki ku satu-satunya. Ku beri nama yang menurut aku berarti Lintang adalah garis, Tanjoeng berarti ujung pulau, Samudhera adalah luas. Jika diartikan secara gamblang "suatu ketika anakku berada di manapun atau dalam kondisi apapun, tetaplah harus ingat dengan asal muasalnya, tetaplah ia harus membumi". Kini ia sudah 8 tahun (September 2010). Tak ada orangtua yang ingin anaknya terpuruk. Tak ada Harimau yang memakan anaknya sendiri. Begitu juga aku, aku upayakan dan usahakan anakku menjalani kehidupan dengan apa adanya. Perlahan aku mencoba selalu mengajarkan hal-hal yang baik dan bisa diterima oleh pikiran sesuai dengan usia anakku. Tak terkecuali ia pun aku ajarkan memotret. Periang, gesit, selalu ingin tahu, adalah sifat yang ada pada anakku. Aku memanggilnya Lintang. Kadang aku embel2i "Keriting Keren", yah karena memang rambutnya ikal cenderung keriting. Anakku Lintang, kelak kamu akan tahu, begitu besar sayang ayah ke kamu, cepat besar ya Nak, ayah akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa menemani kamu dalam menggapai cita2 kamu. Ayah sayang kamu.




Sunday, 30 May 2010

Sedang (ber)Senandung Sedih


Setetes Air yg bisa menyejukan hati

Terguncang dan Mengkoyak Mudah2an menjadi akan indah kegundahan dan kekoyakan tersebut nantinya.

Seperti yg pernah saya sampaikan, bahwa buat saya fotografi sudah menjadi bagian dari jiwa. Susah senang saya, diusahakan selalu untuk mencoba berkarya, walau entah karya itu berkenan atau tidak. Tapi saya mencoba menggambarkan rasa senang atau sedih saya dalam sebuah foto. Setidaknya, luapan sebuah emosi saya sampaikan dalam sebuah foto.


Saat mengambil foto ini, jujur hati saya sedang gundah. Layaknya sebuah air yang tenang, tiba2 terpercik oleh sesuatu yang berakibat adanya guncangan dan mengkoyak ketenangan itu sendiri. Namun guncangan dan koyakan tersebut kadang bisa indah kadang sebaliknya. Jika melihat percikan air ini saya berharap akan indah. Seindah bentuk dari hasil percikan itu sendiri. Dan saya ingin, di kala gundah saya berharap ada tetesan air yang mungkin bisa menyejukan hati saya. Jatuh secara pelan namun tidak mengguncang dan mengkoyak. Dan saya berharap, suatu ketika ini terjadi pada diri anda, tetap lah tegar dan tetaplah berharap, bahwa ada yang akan lebih baik dengan adanya guncangan dan koyakan ini.

Monday, 24 May 2010

Sekedar Berbagi Pengalaman


Belum lama ini saya melakukan sebuah pemotretan untuk keperluan majalah. Entah bagaimana, saya suka sekali dengan melakukan setting lampu seperti ini. Dimana ada cahaya dibelakang model, memang terkesan ektrim, karena cahaya yg berasal dari slave master di bagian belakang sengaja saya tonjolkan. Selain, timbul semburat cahaya juga lebih mendramatisir karakter si Model. Pasti disetiap memotret saya selalu melakukan hal ini, padahal hasil foto belum tentu digunakan. Selalu saya simpan, dan saya perhatikan baik2 dimana letak kekurangannya. Kapan waktu saya coba kembali. Manusia hidup selalu dengan dua sisi, ada sisi negatif dan positif. Saya mencoba selalu menampilkan keduanya. Tidak ada manusia yg sempurna. Pasti ada sisi hitam dan putihnya. dan saya mencoba untuk menggambarkan hal itu. Siapapun anda, percayalah, yg hitam tidak akan selamanya hitam, yang putih mudah2an bisa bertahan dengan putihnya.

Thursday, 6 May 2010

Parade Hasil Foto (Bag. Pertama)

Ket Foto : Pemandangan si Selatan Jakarta



Ket Foto : Jalan Thamrin di Malam Hari

Ket Foto : Anjungan di P. Rambut


Ket Foto : Parade Model

Ket Foto : Saat Anggun , Tony Braxton, Jason M'raz manggung di Jakarta




Jika ada yang bertanya, sebenarnya lebih fokus kemana fotografi saya. Pertanyaan yang sulit saya jawab. Dulu waktu masa pembelajaran, saya memotret apa saja yang saya suka. Wanita, Potrait, Landscape, Satwa, Still Life, bahkan Wedding dan dokumentasi acara. Saya pelajari semua. Sulit untuk memilih. Sementara hingga sampai saat ini saya pun masih memotret apa saja karena sesuai dengan tugas sebagai seorang Jurnalis Foto. Sepertinya saya dituntut untuk bisa motret apa saja. Apalagi sewaktu saya bergabung di Majalah Audio Pro dan Audio Video, antara foto Potrait, Panggung dan Produk seolah menjadi keseharian memotret saya. Ada penambahan 'jabatan' saat itu, Fotografer Panggung dan Fotografer Musisi. Nama-nama musisi dalam dan luar negeri seperti Ahmad Dhani, Fariz RM, Gilang Ramadhan, Andy Ayunir, Wong Aksan, Yovie Widianto, Jhon Myung (Dream Theater), Paul Gillbert (Mr. Big), Rick Wackman dan beberapa musisi lain, adalah nama yang pernah saya potret untuk pemotretan cover majalah. Bahkan foto keluarga nya Mas Fariz RM yang notabene adalah hasil foto saya, dijadikan insert cover di Album nya Dekade Fariz RM (sesuatu yang bisa membuat saya banggakan, hingga sekarang). Dan pengalaman yang tak pernah terlupa, ketika harus memotret Ahmad Dhani, saat itu konsep awal adalah Mas Dhani sebagai seorang pemain keyboard (sesuai dengan alat musik yang dipegangnya di Dewa), namun tak sangka, saat pemotretan akan berlangsung, saya utarakan konsep saya, Mas Dhani menolak dan mengatakan bahwa dirinya di Dewa adalah Produser. Waaah....pikiran serasa blank, namun saya usahakan secepat mungkin mendapat ide untuk memenuhi keinginannya. Akhirnya pemotretan berlangsung lancar. Dan dari sanalah saya sedikitnya mengetahui pemikiran dan gagasan2 seorang Ahmad Dhani.


Foto Panggung

Menjalani profesi fotografer yang dituntut bisa memotret apa saja, tidaklah membuat saya harus meratapi nasib. Tapi justru disitulah saya mempelajari banyak hal baik itu fotografi dan diluar fotografi. Foto Panggung adalah salah satunya, saya lupa group atau acara musik apa yang pertama kali saya potret. Saat ditahun 2000, Group Musik seperti Slank, Jamrud, Dewa, Padi, Sheila on 7, Gigi, The Fly, Naif, /Rif adalah group band papan atas saat itu, dan saya bersyukur sempat memotret konser mereka. Yang saya ingat dan paling berkesan adalah saat memotret group Scorpion sewaktu manggung di Bandung, lalu Group Vokal Westlife yang manggung di Jakarta. Dan di Foto Panggung ini saya mendapatkan banyak pelajaran, bagaimana beratnya perjuangan seorang fans yang menonton penyanyi pujaannya. Tergencet, terinjak, bahkan terjatuh dan pingsan adalah hal biasa yang sering saya saksikan bila berada di dekat penggung. Dan pengalaman yang paling menggelikan adalah ketika saya memotret konser /Rif, berbekal kamera analog Nikon FM2 dan satu-satunya fotografer yang bisa naik panggung (yang lainnya dibawah) bahkan Maggi sang drummer group band tersebut hanya berjarak 3m dari posisi saya. Bebas sebebasnya saya mengambil moment yang ada. Setelah merasa cukup, saya turun dari panggung, dan langsung menuju redaksi. Sampai di redaksi, badan seketika lemas, karena begitu mengeluarkan kamera dan ingin menggulung film (masih pakai film negatif), ternyata gulungan berputar ringan ! Ya Tuhan.......ternyata film yang saya gunakan tadi tidak tergulung. Dan shutter yang saya tekan dari tadi saat dipanggung adalah shutter kosong alias film tidak nyangkut ! Pasrah, merasa diri paling bodoh, lucu, bercampur jadi satu.



Nah foto-foto yang saya tampilkan mungkin tak ada hubungannya dengan cerita diatas. Tapi setidaknya, foto-foto inilah bisa menggambarkan perjalanan panjang saya dalam memotret dan harus bisa memotret apa saja.


Baca Juga :


Senandung Memotret Dengan Kecepatan Rendah
Memotret Tetes Air dengan lensa kits
Memotret Buah Jatuh Ke Air
Senandung Memotret Wayang Orang (Tips dan Trik)
Senandung Memotret Ekspresi Anak
Memotret Ekspresi di Panggung Musik
Senandung Foto Efek Rim Light (Tips Memotret Model )

Tuesday, 4 May 2010

Ketika Memotret itu Tiba (Bag. Ketiga-Habis)









Ket: Foto : Alit

Model : Maia Novie














Setting Lampu


Menunggu MUA memoles wajah Model saya lihat lagi kondisi lokasi pemotretan dan langsung mensetting lampu. Seperti diutarakan diatas dengan lampu-lampu tersebut, saya setting secara sederhana tidak terlalu njlimet. Dengan pola lampu utama (300 Ws) yang saya balut dengan softbox dan di posisikan di depan model, saya mulai mengetes eksposure dengan satu lampu terlebih dahulu. Karena selain model yang saya potret, ada juga produk yang menjadi pendampingnya, diagframa selalu saya stel pad f:8, ini memungkinkan agar background tidak terlalu blur. Setelah itu, saya akan memanggil rekan untuk bisa berdiri di dekat lampu (yang nantinya menjadi posisi model), setelah mengambil beberapa frame, barulah saya menentukan untuk penambahan lampu berikut serta penempatannya. Mungkin pembaca ada yang bertanya, apakah saya menggunakan kru disetiap pemotretan ? Jawabannya tidak ! mulai dari angkat , pasang sampai setting lampu saya lakukan sendiri. Hal ini sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Walau tidak disetiap pemotretan saya lakukan hal tersebut. Tapi semua saya lakukan dengan senang hati. Karena yang terpenting buat saya adalah support mereka (teman2 satu tim) merupakan bantuan yang tak terhingga.


Sesi Demi Sesi

Begitu MUA menyelesaikan tugasnya, dia akan mengantar model ke hadapan saya. Saya perhatikan polesan hasil MUA, lalu saya foto close up hingga bagian pipi, mata , alis, sampai bibir terlihat jelas. Diskusikan dengan MUA , jika memang saya merasa ada yang janggal atau terlalu tebal make up nya. Jika memang tak ada yang perlu di rubah, selanjutnya tes lampu kembali, dengan cara si model berdiri di posisi yang ditentukan. Setelah dirasa cukup. Saya akan sedikit mengingatkan kepada model hal-hal yang pernah dibicarakan dan saya katakan ke model “Inilah saat nya buat kamu, untuk menunjukan yang terbaik”. Istilahnya memberi support buat si Model. Setelah itu saya briefing mengenai produk pendamping, dan pose yang saya inginkan. Dan akhirnya pemotretan itu berlangsung sesi demi sesi, instruksi, pose, serta diskusi ‘dadakan’ dengan model menjadi warna tersendiri di setiap pemotretan ini. Saya fokuskan pikiran dan hati saya untuk membuat foto yang bisa dimengerti orang, dalam artian pesan yang saya sampaikan bisa diterima oleh yang melihat. Dalam pemotretan ini saya tak selalu berpatokan dengan satu eksposure (f;8) sesuai dengan setting awal , begitu ada beberapa foto yang dirasa cukup bagus dan sesuai, maka tak segan saya akan segera mengubah berbagai eksposure . Bahkan tak segan merubah setting lampu seketika untuk mendapatkan passion yang berbeda. Sedikit catatan, hal yang paling kurang berkenan adalah ketika beberapa pose yang menurut saya sudah bagus dan saya sudah memberi aba-aba “frezze” ke si Model, namun si model malah bergerak merubah pose nya dalam hitungan detik, padahal shutter sedang saya tekan. Ini kadang memberi efek psikologis tersendiri buat saya.