UA-72643545-1

Photo

Monday, 5 January 2015

Senandung FOTO SUNSET ( Indahnya Jakarta )

Selamat Taun Baru 2015...Semoga di tahun baru ini, apa yang pembaca dan pengunjung setia blog ini inginkan bisa tercapai. Sejujurnya sudah lama sekali saya tidak menulis dalam blog ini. Bukan karena sibuk atau sudah tidak ada bahan untuk ditulis. Tapi selama kurun waktu tahun 2014, begitu banyak kejadian yang "harus" saya lalui. Kejadian yang menguras tenaga dan pikiran (karena berhubungan dengan suasana hati)...lho..kok jadi curhat. Entah ini suatu janji atau bukan, Insya Allah saya akan mulai aktif kembali menulis di blog ini dengan berbagai tips dan trik dalam memotret. Dan saya awali blog di tahun 2015 ini dengan keindahan Jakarta dalam suasana sunset. Sunset buat saya mempunyai arti tersendiri. Berbagai warna dalam sunset kadang muncul tak terduga. Ada jingga, lembayung, ungu, kuning hangat, merah dan sebagainya. Memotret sunset sebenarnya juga mudah. Yang susah itu mungkin NIAT memotret. Saya pribadi, selalu membawa kamera dalam tas saya sehari-hari setiap berangkat kerja. Entah dipakai entah tidak (tapi lebih banyak dipakai), saya selalu menyiapkan kamera saya. Mungkin itu tips pertama. Jakarta selalu dikenal dengan kota yang padat, kesemerawutan, macet, deru kendaraan dan hal lainnnya yang bahkan bisa membuat stress sendiri. Namun Jakarta juga mempunyai banyak hal yang indah. Salah satunya adalah foto sunset. Dalam foto ini saya memotret di beberapa lokasi di sekitar wilayah Jakarta.


Jembatan Flyover Kampung Melayu


Mungkin pembaca sering lewat jembatan flyover Kampung Melayu ? Memang ini termasuk jalur padat, tapi jika sore, arah dari Cipinang ke Mal Ambasador terhitung lengang. Menyaksikan turunnya matahari disini juga menjadi keasyikan tersendiri sembari merekamnya dalam foto. 

Jembatan Fly Over Kampung Melayu

Foto sunset memang selalu menarik diambil dalam berbagai arah, biasanya sinar matahari dengan langit menjulang yang dipenuhi awan menjadi point of interest.. Namun, memotret sunset dengan posisi agak sedikit turun dari jembatan, dengan menjadikan kendaraan yang melintas bisa menjadi foreground menarik.Belum lagi gedung-gedung yang "mengapit" matahari, tentu menjadikan foto menjadi kuat dalam bercerita.

 Sekitar Jalan Matraman


Jalan Matraman pun juga mempunyai nuansa tersendiri bila ingin memotret sunset. Arah pandang kearah pusat kota yang berisi gedung-gedung megah, bisa menjadi moment foto yang indah. 

 Sekitar Jalan Matraman



 Flyover Karet Jakarta Pusat

Di wilayah flyover Karet arah Tanah Abang, pemandangan sunset juga tak kalah menakjubkan. Dan lebih hebatnya lagi, memotret Sunrise diatas flyover ini juga tak kalah bagusnya. Banyak "ruang" kosong dengan nuansa lebih hangat ketika memotret sunrise


Flyover Jatibaru

Dan flyover Jatibaru juga bisa menjadi spot pilihan dalam memotret sunset di Jakarta. Arah pandang yang dijadikan background pun bisa beragam. Bisa ke arah barat (Gedung Mal Taman Anggrek) atau gedung-gedung yang berada di Jalan S.Parman. Namun dalam memotret diwilayah ini ada beberapa kendala, yaitu melintangnya kabel tiang sutet. Tapi bukan masalah besar, justru kabel-kabel ini bisa menjadi foreground tersendiri dalam foto.

Dan berikut beberapa tips dalam memotret sunset di wilayah Jakarta :
1. Pastikan cuaca cerah
2. Siapkan kamera
3. Atur jadwal tersendiri ( jam 16.30 WIB kalo bisa sudah dilokasi)
4. membawa Tripod sangat disarankan, karena memotret kondisi "Blue Hour" ketika senja benar-benar redup, bisa juga dilakukan.
5. Pastikan keamanan dan keselamatan anda ketika memotret. Jangan terlalu asyik dengan suasana, yang justru bisa melupakan keamanan dan keselamatan
6. Jangan pernah menenteng kamera dengan posisi di tangan yang searah jalur kendaraan ( karena jika anda lengah, bisa-bisa kamera anda bisa disambar orang)
7. Mengenai teknis memotret, gunakan eksposure yang menurut anda baik.
8. Selamat mencoba


Foto & Teks : Farid S

Baca Juga :





Wednesday, 21 August 2013

Memotret Buah Jatuh Ke Air

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada pembaca yang sudah meluangkan waktunya untuk mampir ke blog saya ini. Dan ternyata posting yang berjudul "Memotret Air Tumpah" paling banyak dikunjungi oleh pembaca. Semoga bermanfaat dan bisa pembaca terapkan dalam memperkaya kreasi fotografi anda. Dan untuk kali ini, saya masih mencoba "bermain" dengan air. Foto-foto berikut saya coba,terinspirasi dari beberapa karya teman-teman di Majalah Chip Foto Video edisi Juli.

Inti dari tulisan ini sebenarnya adalah memotret dengan memanfaatkan cahaya tambahan. Dalam foto-foto ini saya menggunakan satu lampu slave master kapasitas 100w. Dan saya gunakan trigger tanpa trippod di kamera. Dan saya buat dengan kondisi sesimpel mungkin, simpel dengan kondisi ruangan (tempat memotret), simpel dengan subyek yang di foto, simpel dengan cahaya.


Persiapan Memotret


Persiapan :


1. Mangkok , dengan warna mangkok sesuai selera anda atau berdasarkan warna buah yang akan di jatuhkan nanti.
2. Air bewarna putih (bukan bening) dari tepung yang dilarutkan ke air, bahan detergen, atau jika anda ingin, belilah beberapa susu kotak
3. Buah bewarna. Dalam contoh foto, menggunakan strawberry
4. Meja kecil yang dilapisi plastik agar ciprtan air tidak kemana2
5. Lampu. Bisa flash external, slave master, lampu studio bahkan lampu belajar pun bisa digunakan.
6. Kamera dengan lensa wide.

Tuesday, 4 June 2013

Banjir (Jangan ) Datang lagi - Jakarta Januari 2013


Ba
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Chip Foto Video edisi Maret 2013.
Foto &Teks : Farid Syamsuri
Banjir yang melanda Jakarta pertengahan Januari 2013 sungguh menyesakan dada. Terlepas dari besar kecilnya air banjir, terlepas dari segala perbandingan-perbandingan antara tahun-tahun sebelumnya dengan tahun sekarang, tetap saja banjir menyisakan penderitaan buat kita semua. Baik yang mengalami ataupun tidak. Banjir yang merendam beberapa wilayah di Jakarta saat itu, setidaknya hampir “melumpuhkan” suasana di Ibukota. Beberapa sarana dan prasarana yang ada tak luput dari hampiran air banjir ini. Banjir tak mengenal daerah, wilayah atau negara sekalipun. Dia datang mengalir begitu saja. Menumpahkan segala airnya ke penjuru yang dianggap rendah. Lihat saja beberapa jalan protokol yang sehari-harinya begitu padat dengan arus kendaraan, justru saat itu berganti dengan arus air. Wilayah-wilayah pemukiman penduduk baik yang sudah menjadi “langganan” banjir ataupun tidak pun tak luput dari “singgahan” air banjir yang selain disebabkan curah hujan yang tinggi di wilayah Jakarta juga adanya banjir kiriman dari wilayah Bogor melalui sungai Ciliwung. Selalu ada hikmah dibalik kejadian. Dan seharusnya kita tak menuding pihak manapun untuk disalahkan akibat banjir yang melanda. Lebih baik kita menjaga, agar kedepannya banjir ini tak terjadi lagi. Dan semua itu harus dimulai dari kita. Termasuk saya.
Depan Sarinah Thamrin - Jakarta Pusat


Menikmati "bebas macet" di Jl. Thamrin

Fly Over Jatibaru Tanah Abang


Biasanya Jalan Thamrin Penuh dengan Kendaraan, tapi saat itu.........


TPU Karet Jakarta Pusat


Rumah Orangtuaku pun tak luput dari Banjir.....



Mengais Rejeki - Fly Over Kampung Melayu

























































 





Wednesday, 7 November 2012

Senandung Memotret Dengan Cahaya Seadanya


Simpel Lighting

Teks & Foto : Farid S

Memotret produk bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampang bagi yang memang suka dan sering memotret produk atau bahkan karena tuntutan pekerjaan. Susah bagi  yang (mungkin) tidak pernah mencoba atau pernah mencoba tapi selalu gagal. Lalu saya teringat dengan ucapan seorang fotografer senior yang mengatakan memotretlah dengan cahaya yang tersedia, walau cahaya itu minim. Foto-foto berikut ini adalah hasil dari aplikasi hal diatas . Mencoba dan memotret dengan cahaya yang tersedia. Tersedia disini bukanlah available light tapi cahaya dari sebuah senter kecil dan lampu slave.


Persiapan :

1.       Kamera dengan lensa

2.       Dua buah senter

3.       Satu lampu slave (digunakan jika memang perlu)

4.       Tripod, jika memang perlu

5.       Meja kecil

6.       Produk yang ingin di foto, disini saya memilih sebuah jam tangan anti air

7.       Background hitam, tidak harus lebar

8.       Kantong plastik atau kain warna hitam untuk penutup meja


Pemotretan

1.       Yang paling utama sebelum memulai pemotretan adalah kita harus menentukan produk yang ingin difoto. Bila sudah didapat, pelajari karakteristik produk tersebut. Mulai dari jenis bahan, tampilan, kegunaan, bahkan detil dari produk tersebut harus diperhatikan. Ini dimaksudkan agar kita tahu darimana sisi produk tersebut yang enak dilihat, bahkan pantulan cahaya yang terjadi ketika kita memotret produk itu.

2.       Perhatikan sinar lampu yang dihasilkan dari cahaya, dalam hal ini senter. Karena ada beberapa senter yang menggunakan lampu dengan pijar kekuningan (seperti lampu bohlam) dan ada pula senter dengan pijar lampu agak biru (seperti lampu neon). Kesemuanya akan menghasilkan cahaya dengan keunikan masing-masing.
3.       Karateristik dari cahaya senter ini harus diperhatikan karena akan berhubungan dengan setting white balance di kamera. Jika perlu, silahkan untuk mencoba berbagai white balance yang ada di kamera. Dan lihat perbedaannya, lambat laun anda akan menemukan karateristik tersendiri atau kesukaan akan sebuah efek warna yang anda inginkan dalam setiap pemotretan.
4.       Atur posisi produk dan setting posisi senter. Hal yang perlu diperhatikan sebelum anda meletakan posisi yang pas untuk senter, lakukan penyinaran dengan cahaya senter tersebut kea rah produk. Dan lihat, kira-kira  posisi mana arah jatuhnya cahaya yang pas dan terlihat dramatis pada produk. Di foto-foto  ini saya menggunakan dua buah senter yang berfungsi untuk penyinaran dari arah belakang dan dari arah depan.

Wednesday, 25 July 2012

Senandung Foto Karikatur

Ingin nuansa lain dari hasil karya foto anda ? Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam mengolah sebuah foto. Dengan menggunakan banyak software yang ada (unduh gratis), karya foto kita bisa buat sesuai keinginan kita. Mungkin lebih diperindah, di tambah sana-sini, dan sebagainya. Kali saya mencoba membuat suasana lain dari karya foto saya. Bukannya bosan, tapi terbersit ketika sempat mampir ke toko buku dan melihat sebuah buku tentang karikatur. Sejujurnya saya penyuka karikatur. Penuh dengan pesan, kekuatan karakter, sindiran, bahkan sifat dari yang ada di foto tersebut bisa menambah nuansa tersendiri. Terkadang gambar yang dibuat bisa mengundang kelucuan dan kegelian bagi yang melihatnya. Namun untuk membuat karikatur itu sendiri, (sebelum membaca buku tentang karikatur) saya tidak mempunyai "nyali" untuk membuatnya. Pertama karena saya tidak jago menggambar, kedua saya hanya sebagi penikmat dan sering terkagum-kagum dengan para seniman karikatur. Ide dan penggambaran karakter itu yang membuat saya kagum. Terima kasih buat teknologi. Karena ternyata software untuk membuat karikatur tersebut ada di komputer saya. Dulu pernah mencoba dengan sofware gratisan, tapi gagal total. Nah, kali ini saya mencoba memberanikan diri untuk membuat karikatur ini. Dan berikut beberapa hasil karya saya. Sekali lagi, karikatur yang saya buat jangan menjadi acuan. Karya yang saya buat ini adalah bagian dari tugas saya untuk mencoba berbagai hal tentang fotografi. Saya yakin, hasil karya anda akan lebih bagus dan lebih berkarakter. Dan untuk seluruh seniman karikatur, salut untuk anda. Karya-karya anda pun bisa mengubah dunia.
Jalan2 di Malioboro
Pernikahan Kami

Bin Family
Keponakan


My Self
My Sister
Lintang
Mother's Cup Cake





Thursday, 12 July 2012

Senandung Memotret Ekspresi Anak

Susah-susah gampang ketika kita memotret anak. Dunia anak adalah dunia tersendiri. Dunia yang penuh dengan keceriaan dan bermain. Dunia yang penuh dengan kepolosan. Gelak tawa, tangis, senang, sedih, semuanya akan diekspresikan dengan cara yang berbeda dari setiap anak. Memotret anak, selain dibutuhkan kesabaran, pendekatan, juga dibutuhkan kecepatan memotret moment.  Tak akan ada artinya bila teknik memotret kita bagus, namun dalam hal mendekati anak saja kita tidak bisa. Banyak hal yang dapat kita lakukan kala memotret anak. Tidaklah harus ketika mereka berpakaian bagus, tidaklah harus disuruh menghadap kamera seraya mengucap " cheeerrrsss....anakku", "senyum doong nak" lalu ...tekan rana. Foto anak yang bagus menurut saya adalah ketika mereka sedang melakukan aktifitas dengan natural. Dalam artian aktifitas tersebut bukanlah sesuatu yang dipaksakan. Contoh sedang makan, bermain, bercanda. Atau aktifitas yang disuka oleh anak. Maka disitulah kita bisa merekam segala peristiwa dengan memotretnya. Ekpresinya pun akan terlihat lebih enak dilihat, karena memang natural. Kepolosan adalah sebuah ekspresi, tugas kita mengabadikan mereka dalam sebuah foto dengan kepolosan yang tercermin dari dunia anak tanpa harus memaksakan kehendak berpose. Biarlah mereka berpose dengan gayanya. Gaya anak-anak. Selamat mencoba.








Foto-foto & Teks : Farid S

Baca Juga :


Senandung Memotret Dengan Kecepatan Rendah
Memotret Tetes Air dengan lensa kits
Memotret Buah Jatuh Ke Air
Senandung Memotret Wayang Orang (Tips dan Trik)

Wednesday, 27 June 2012

Pada Sebuah Desa


Desaku yang kucinta , Pujaan hatiku...
Tempat Ayah dan Bunda dan handai tolanku...
Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai..
Selalu ku rindukan, desaku yang permai....


Kamera Nikon D80 ISO 100 Lensa 70-300mm f;4,5
Olah digital pada warna kabut dengan brigtness contras

Begitulah sepenggal lagu "Desaku", yang saat di Sekolah Dasar seringkali dinyanyikan. Desa adalah sebuah tempat yang bagi orang kota, terletak jauh sekali dari keramaian. Kalo orang Jakarta bilang kampung.


 
Kamera Nikon D80 ISO 100 Lensa 70-300mm f;4,5
Olah digital pada awan dan matahari


 Tidak ada orang Jakarta yang bilang Pulang Desa, pasti bilang Pulang Kampung ketika para perantau akan kembali ke daerahnya masing-masing.  Terlepas dari apapun namanya, toh desa tetap desa. Tempat dimana bagi sebagian orang sebagai tempat lahir, bersekolah, pergi ke surau, bermain bersama teman saat kecil, mandi di sungai, pergi kesawah atau ladang dan sebagainya. Bagi sebagian orang tentu kampung halaman mempunyai cerita tersendiri dan beragam.



Kamera Nikon D80 ISO 100 Lensa 70-300mm f;4,5
olah digital pada warna langit
Penuh kenangan pastinya. Saya mencoba mengingat kembali akan keberadaan desa yang bagi saya punya kenangan tersendiri. Saya tidak lahir di desa ini, namun besar dan pernah bersekolah di desa ini. Begitu menyenangkan ketika memotret lokasi dimana saya dulu pernah bermain, mandi di sungai, mencari belut, keong, menginjak sawah orang yang baru tanam, membantu panen padi, semuanya terlintas kembali kenangan masa  kecil.

Kamera Nikon D80 ISO 100 Lensa 70-300mm f;4,5
Olah digital pada warna


Namun tidak semua foto dapat saya hadirkan disini, tapi setidaknya saya mencoba memberikan sebuah gambaran tentang arti sebuah desa buat saya. Dalam balutan suasana pagi, inilah potret desa yang memberi arti tersendiri buat saya. Desa Maos Lor. Salam buat sahabat-sahabat kecil saya disana.


Kamera Nikon D80 ISO 100 Lensa 70-300mm f;4,5
olah digital pada warna dan efek Rel Of Light


Foto & Teks : Farid S